Judulnya agak provokatif, bukan bermaksud menggeneralisasi semua orang yang merokok. Saya memang bukan Taufik Ismail yang berpuisi Tuhan Sembilan Senti yang terkenal itu. Namun, saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang pro pada puisi ini. Mungkin tak semua perokok seperti itu, saya memang tak bermaksud menggeneralisasi. Karena itu, saya definisikan “perokok” yang saya maksud di sini pada paragraf berikut.
Perokok yang saya maksud adalah orang yang hampir setiap saat menghembuskan asap berbau busuk dan mengandung beribu racun ke udara, tak tahu tempat, tak tahu waktu, dan tak tahu aturan. Mereka biasanya ada di bus kelas ekonomi, kereta kelas ekonomi dan kelas bisnis, terminal bus, stasiun kereta, bahkan kampus dan juga kantor pemerintahan. Mungkin ada juga di tempat lain yang tak saya sebutkan. Mereka tak peduli kalau ada wanita hamil, adik bayi tak berdosa, balita yang senang bermain kesana kemari, dan para pesakitan yang alergi terhadap asap rokok di sekitar mereka. Tipe yang inilah yang saya maksud.
Perokok ini sudah layaknya menyembah berhala. Bila diingatkan, mereka akan emosional dan marah-marah. Menyuruh naik kereta atau bus eksekutif saja kalau tidak ingin menghirup racun. Padahal kalau saya punya uang, sudah pasti saya naik Turangga daripada naik Mutiara Selatan atau Kahuripan. Bukankah para perokok itu yang harusnya naik kereta eksekutif? Toh, mereka sudah pasti kelebihan uang karena bisa membakarnya setiap saat. Tidak seperti saya yang harus menghitung-hitung uang dengan cermat untuk makan saja, tentu saja saya tak tega untuk membakarnya.
Seringkali mereka juga tak tahu aturan. Lihatlah puntung menjijikkan itu mereka buang ke mana? Jalanan, bus, gerbong kereta, selokan, bahkan saluran pembuangan di WC Umum. Seperti itukah sikap orang yang kelebihan uang? Orang kelebihan duit seharusnya sudah pernah makan sekolah dan diajari untuk tidak buang sampah sembarangan. Seharusnya tahu kalau WC Umum itu sudah tak higienis, bukannya memperbaiki keadaan malah membuatnya jadi lebih bau dan busuk.
Perokok macam ini juga muncul di lingkungan akademis bernama kampus yang seharusnya orang-orangnya terdidik dengan baik. Ironis, eh? Seharusnya mereka tahu kalau rokok itu membawa penyakit bagi orang sekitar. Sebenarnya saya tak mempermasalahkan kalau mereka mau bunuh diri sekalipun. Asal tidak mengajak orang lain turut serta. Silakan saja menyedot racun itu sepuasnya asal orang lain tak turut menyedot racunnya. Seperti biasa, orang-orang macam ini sudah macam kecanduan agama tingkat akut. Kalau diingatkan marah-marah dan memuja-muja berhalanya.
Mungkin bapak Taufik Ismail memang benar, negeri ini memang firdaus bagi perokok. Neraka bagi kami yang bukan. Tak peduli petani, pengemis, pedagang kecil, atau pengamen yang mengaku-ngaku susah makan tetap saja merokok. Lebih baik tak makan daripada tak merokok. Lebih baik anak-anak kelaparan daripada tak merokok. Mengherankan.
Saya juga tak habis pikir bagaimana solusinya. Jakarta saja yang sudah menerapkan perda yang melarang penghisapan nikotin di tempat umum, tak membuahkan hasil. Ketidaktegasan aparat dan kebodohan sumber daya manusia di negeri ini masih menjadi masalah tiap aturan yang ada. Not like Singapore, fine city. Yah, fine di negeri itu, denda pasti menimpa Anda kalau membuang racun berasap sembarangan. Seandainya bisa seperti itu, udara segar bisa kita dapat di kendaraan umum kelas ekonomi sekalipun, kecuali ada yang bawa ayam dan buang tai di situ
, tapi tampaknya Indonesia bukan tempat yang bisa menerapkan hal itu. Anda punya solusi?
Memang menyebalkan kok, melihat orang merokok dimana-mana tanpa aturan….dan bau asapnya itu lho…
Jadi aturan di rumahku jelas, tak boleh ada tamu yang merokok…kalau mau merokok, silahkan di jalan dulu, karena di rumah tak disediakan asbak.
Jadi syarat jadi menantu juga tak boleh merokok….hehehe
[edratna]
Memang menyebalkan bu…
Pengennya sih melarang seperti itu, tapi biasanya orang-orangnya marah-marah, ya sudahlah saya mengalah…
yah memang, teori “impossible is nothing” tidak seratus persen benar, mengingat indonesia tidak akan pernah bisa seperti singapura sebagai fine city melihat penghuni-penghuninya yang keras kepala
[machandra]
Laa…
terus diapakan dong?
pasang sniper untuk menembaki perokokhttp://www.stopmerokok.com/html-version/index.php
[ryan]
Link-nya kena akismet, kenapa ya?
btw, nice link…
sebentar lagi BUSWAY juga bisa ngerokok…hu..hu..hu
rokok…
huh…
bullshit…
di satu sisi penyakit..
tp juga menolong sebagian orang memperoleh sesuap nasi..
akismet itu apa? **maklum ndak punya KBBI
wah betapa cepatnya jumlah komentar bertambah, ck ck ck…
[okta sihotang]
Hah? BUSWAY bisa ngerokok?
Memangnya jalan bus punya mulut?
*salah fokus*
[Wahyu Reza Prahara]
Terus mau diapakan? saya tanya solusi lo…
[ryan]
Akismet itu software penangkal spam…
Biasanya nangkep tulisan-tulisan semacam V-IA-G*A atau benda-benda seputar selangkangan, juga link-link yang mengarah ke sana…
Komentar cepat bertambah?
Hehehe…
soale saya tampanoow.. iya, itu buatan pfzier. Dia membuat permen khusus yg membantu mengurangi ketergantungan si perokok terhadap nikotin.
Dan kebetulan itu pabrik yg sama dgn yg membuat pil biru.
[ryan]
Oww…
Jadi pabriknya sama dengan yang bikin gituan?
Ahem…
Ah… rokok sebenarnya di mana saja. Bahkan orang2 elit pengusaha sampai artis2pun banyak yang merokok. Yang jelas rokok banyak terdapat di tempat2 yang tidak ada tanda “Dilarang Merokok”.
Kalau ada asap rokok…. ya kalau kebetulan lagi mules…. balas aja dengan kentut. Kentut biar bau tapi nggak berbahaya. Mendingan kentut daripada asap rokok kan?? Huehehe……
[Yari NK]
Hemmm…
Mending kentut daripada asap rokok?
*bersiap makan ubi bakar dan pete kalau ada yang merokok dekat saya*
——
Seharusnya di tempat umum semacam kereta api atau bus perlu dikasih tanda dilarang merokok, biar nggak mengganggu orang lain.
Untung saya bukan perokok.
[imcw]
Untung saya juga bukan…
apalagi gw alergi kayak gituan. gw sengaja kerasin batuknya biar kedengeran. bokap gw kalo ngerokok deket gw langsung gw marahin (moga2 ga durhaka.hehe)
tapi liat deh, fatwa haram dari MUI tampaknya tidak mempan gitu….
[zulfikar]
Jadi solusi lo kerasin batuk? Hemmm…
Sejauh ini sudah dua solusi, kentut dan batuk keras-keras…
Lalu apalagi?
Ahh…
keliru pakai akunnya Bapak…
Sudahlah…
Dengan komentar ini kesalahan diperbaiki…
nah itu udah diidentifikasi kan sumber masalahnya:
Ketidaktegasan aparat dan kebodohan sumber daya manusia di negeri ini masih menjadi masalah tiap aturan yang ada.
berarti solusinya adalah pengkaderan aparat penegak peraturan.
membangun kultur dan pencitraan jg kekna bs bantu, jadi kalau selama ini perokok itu seolah-olah keren, dibuat gimana caranya orang merokok itu dianggap cupu sm masyarakat, dikatain impoten kek.
jd klo misal liat preman penuh tato lagi ngerokok, disapa aja, “halo mas impoten!” tapi habis bilang gt jgn lupa kaboor, hwhw..
Apa tulisannya nggak salah tempat ?
Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia ini yang welcome sama rokok. Mungkin negara lainnya adalah Korea, dimana banyak orang klepas-klepus merokok…
Kebanyakan merokok ? Kantong bolong dan dada sesek…
Kekurangan merokok ? Pala pusing dan jantung deg-degan…
Di negara yang nggak boleh merokok sembarangan (US, Singapore) toh saya bisa merokok..
Sebagai Ketua RT, kalau tim badminton RT saya bertanding…daripada deg-degan dan jantungan, mending saya merokok satu dua ler…..supaya warungnya ada yang mbeli dan buruhnya nggak dipecatin…
(tidak pernah merokok di depan : Ibu, isteri, dan anak)
[rizasaputra]
Naah… masalahnya cara mengkadernya bagaimana? Yang sekarang kok tetap saja nggak efektif…
Idenya bagus, implementasinya susah. Karena ‘citra’ itu sudah melekat dengan sangat di masyarakat. Kalau cuma 1-2 orang bisa diakali pakai
brainwashingpengaruh orang di sekitar. Laa… ini masyarakat sih.[Tridjoko]
Ya…
Saya ‘kan tidak melarang merokok, cuma melarang membagi asapnya ke orang-orang yang tidak tahan… (paragraf 2)
Kalau sama orang yang sama-sama merokok sih tak masalah.
Saya toh masih mikir para tetangga-tetangga saya di Kudus sini yang masih kerja di pabrik-pabrik rokok.
walah2, ngerokok sembarangan,,kerjaane ‘cali’..gayane si petentang-petenteng, tp di srh puasa nggx kuat..
halah adoh2 wan ning sepur ekonomi..wong kene main ps kdg2 pinggire kebal-kebul koyo ora duwe dosa…
tp klo d kereta api ekonomi ditulisi ‘dilarang merokok’ ktoke yo percuma wan..tetep wae, kan peraturan dibuat utk dilanggar..hahagz..
[hendy]
Hehe…
) saiki kok soyo akeh yo? Eh, wis suwe gak main PS, sok prei nyewa PS yoh…
‘Cali’ (=bocah liar
Iyo sih ketoke sia-sia…
Tapi neng lapangane RT 02 tulisan neng lapangan kuwi gak ana sing ngelanggar…
{maaf buat non-Javanese speaker
}
lha tulisan kuwi ga ana sing nglanggar goro2 do wedi,,
kene kan wiz ora penghuni kono..
seumpama msh dsna mzti dilanggar!
ayo bal2an ning kono!!
[hendy]
Ayo…
[Tridjoko]
Lho.. kapan paman merokok? Kok saya gak pernah lihat yah?
[Edratna]
Seram banget pakai peraturan menantu gak boleh merokok.. Padahal dulu pernah dekat ama cewek yang perokok. Untung nikahnya bukan ama perokok. Tapi kan mertua dan kakak ipar kan termasuk perokok, Bu.. Hihihihi
[Kunderemp An-Narkaulipsiy]
Komennya bukan buat saya, bingung nanggepinnya…
Ups… ngebajak thread orang..
Bukan.. saya cuma penasaran… Paman saya itu, setahu saya gak merokok. Kalau selama ini ternyata dia merokok, berarti hebat.. bisa sembunyi2…
Keluarga saya memang tidak ada yang merokok. Bahkan saya sendiri pernah memarahi teman ayah saya yang datang dan merokok di kamar mandi. Waktu kecil, saya bahkan nyeletuk kakek waktu merokok di mobil. (dan ibu saya, Edratna, termasuk galak… hihihihi)
Saya sendiri sih, dulu cuma mencoba rokok waktu SMP. Dan biasanya cuma waktu ditantang kawan-kawan. Tetapi gak pernah jadi kecanduan karena memang gak bisa merasakan nikmatnya rokok.
[Kunderemp An-Narkaulipsiy]
Ah, nggak apa-apa kok…
Aha, keluarga saya juga tak ada yang merokok. Ayah saya konon katanya dulu perokok berat. Saya yang waktu itu masih bayi selalu menangis kalau digendong Ayah karena bau tidak enak rokok, hehehe…
Ayah saya jadi kesal dan berusaha berhenti, sampai 20 tahun kemudian tetep enggak kok…
Saya sih tak tertarik mencoba. Sudah ilfeel duluan lihatnya
[...] Benci yang namanya "ROKOK" . Meskipun saya berasal dari Kudus yang berjuluk Kota Kretek, tapi saya tidak akan mencoba yang namanya rokok. Kan sudah ada tulisannya : "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin" .Sudah tahu begitu, mengapa di coba? Dan saya juga benci dan jengkel terhadap perokok yang merokok di sembarang tempat contohnya di postingan milik Ardianto ini. [...]
Merokok itu termasuk HAM (Hak Asasi Merokok). Mau dituntut karena melanggar HAM….heheheeheh