Tulisan ini adalah bagian 2 dari 7 tulisan mengenai open source. Tulisan-tulisan lain akan menyusul hingga hari Minggu nanti. Bagian ini adalah mengenai ide saya untuk mendistribusikan linux ke seluruh penjuru nusantara.
Bagaimana cara Anda mendapatkan linux? di toko komputer? download di Internet? Nunggu kiriman dari Belanda? Ngopi dari teman? Kalau di kota-kota besar, hal itu gampang dilakukan. Buat yang pernah hidup di kota kecil, nyari linux itu susah. Ditambah lagi akses internet yang lambat dan susah dicari. Warnet di kota itu hanya sedikit, bisa dihitung dengan dua tangan. Toko buku hanya dua, itu pun kebanyakan menjual buku pelajaran.
Berdasarkan pengalaman saya di Kudus dahulu, pengalaman saya pertama kali nginstal linux, yaitu di tempat tetangga saya, Galih. Distro yang saya pakai waktu itu Mandrake hasil beli edisi khusus dari suatu majalah komputer. Habis itu CD-nya dipinjem sama guru pelajaran komputer saya, dan tak pernah kembali, hingga kini. Setelah itu, saya tidak pernah berurusan dengan linux lagi, soalnya susah cari referensi dan mau belajar dari internet juga nggak ada warnet. Mahal euy, 5000 sejam
Mungkin Kudus memang sudah berubah, tapi saya yakin di detik ini masih banyak kota yang kondisinya seperti kota Kudus saat itu. Saya mulai berfikir, bagaimana biar di kota-kota itu anak-anaknya yang pakai komputer bisa membiasakan diri pakai linux. Nah, saya ingin sekadar beride sih.
Konsepnya begini, para mahasiswa di universitas-universitas yang memiliki akses terhadap informasi linux yang cukup tinggi, bisa memperoleh CD linux dengan mudah dan download dari FTP-FTP kampusnya dengan cepat. Saya ambil contoh di ITB dan UI, di ITB file ISO yang berisi CD linux bisa diperoleh dengan mudah di FTP kampusnya. UI malah terkenal dengan kambingnya. Entah kenapa nama situs itu kambing…
Di antara para mahasiswa tersebut tentu saja ada yang berasal dari kampung bukan? Nah, kalau setidaknya dia mau mengopi dua buah CD linux, lalu diberikan ke dua tetangganya di kampung. Kebetulan kedua tetangga itu punya CD-RW drive sehingga bisa menggandakan kembali CD-nya. Masing-masing dari dua tetangga tadi memberikan lagi ke dua tetangga mereka yang lain, dan seterusnya. Kalau proses ini lancar dan terus menerus, maka dalam satu kota itu akan banyak sumber untuk mengopi linux.
Kalau proses di atas dilakukan, akan terbentuk deret matematis yang membentuk seperti ini, 1+2+4+8+… Sayangnya dunia nggak seideal itu bukan? Bagaimana kalau yang dikasih CD tidak punya CD RW? tentu simpul ini tidak akan bercabang lagi, untuk di sini, saya menyarankan agar menyimpannya dahulu bila membutuhkan, minta tolong kepada teman untuk mengopikan, atau kalau sudah tidak membutuhkan, berikan pada tetangga yang lain.Kenapa cara ini dipilih? Karena harga CD-R kosong itu murah, 1 kepingnya 1500 hingga 2000 rupiah. Jadi satu orang cukup mengeluarkan maksimal 4000 dari kantongnya. Saya pikir, angka ini tidak terlalu berat, hanya uang jajan anak sekolah menengah selama dua hari saja. Bayangkan kalau mahasiswa-mahasiswa dari semua kota di Indonesia bisa melakukan itu. Berapa banyak CD linux yang akan tersebar di seluruh nusantara?

Ilustrasi
Ringkasnya, coba lihat algoritma berikut ini. Karena suatu saat mungkin nama saya bakal dikenang di buku-buku karena ide ini seperti Prim, Kruskal, dan Djikstra yang namanya diabadikan di buku Matematika Diskrit, maka algoritma ini saya beri nama Ardianto’s Algorithms, yehe.. ![]()
prosedur SebarLinux
Selama ada yang belum dapat CD linux lakukan
{
Kalau Punya CD-RW Drive maka
{
Selama belum ngasih orang atau masih pengen ngasih lakukan
{
Copy CD-nya sebanyak dua biji;
Berikan ke dua orang teman;
}
kalau enggak punya CD-RW
{
kalau masih butuh simpen atau minta teman mengopikan atau kasih orang kalau nggak butuh;
}
}
Ya Allah, semoga namaku nanti tercantum di buku Matematika Diskrit.
Oh, ya, sebenarnya prosedur di atas bisa dilakukan untuk software apa saja. Namun bila menyangkut legalitas, kalau diterapkan di open source, prosedur di atas legal. Sayangnya kalau udah diterapkan ke software berlisensi rampok mahal, itu jelas ilegal.
Jadi kalau algoritma di atas bisa diwujudkan, mungkin angka 84% pembajakan yang saya sebut di artikel sebelumnya bisa berkurang. Semoga
Yaa ampun… ternyata tuh guru nggak bertanggung jawab.
Emang kadang aku heran.. Kok yang aku liat di lapangan, Konsep meminjam dan memiliki itu seperti nya sama..
dari satu bercabang dua, masing-masing menarik downline dua orang, dan masing-masing downline masih menarik downline lagi dua orang, dan seterusnya…
MLM linux nih? hehehehe LMAO *kabur*
[mul14]
Ya, enggak gitu juga sih…
Karena yang minjemin juga terkadang lupa
[Ryan]
Memang idenya dapat dari MLM…
Tapi ‘kan nggak mengeruk keuntungan dari bawahnya…
Ngasih keuntungan malah…
Di kota saya penggunaan Linux cuma sebatas di satu warnet yang lumayan besar.
Hmm.. dengan lebih dari 20 PC, jangan2 warnet ini malah yang terbesar di kota saya
Tapi dari pengamatan saya terhadap diri saya sendiri, saya ini masih susah mbiasakan diri dengan Linux. Masih wagu…
Disini emang hampir gak ada yang peduli soal legalitas barang bajakan. Lha wong razia warnet cuma satu kali formalitas pas pengesahan UU HaKI itu saja. Setelah itu gak pernah lagi. Jadi kami masih nyaman adem ayem saja
Hahaha, alergi sama MLM ternyata pake MLM juga…… dasar.
eh??? Kok gw yang posting yang keluar malah nama ardianto.????
Post yang di atas itu loh
Di kota saya penggunaan Linux cuma sebatas di satu warnet yang lumayan besar.
Hmm.. dengan lebih dari 20 PC, jangan2 warnet ini malah yang terbesar di kota saya
Tapi dari pengamatan saya terhadap diri saya sendiri, saya ini masih susah mbiasakan diri dengan Linux. Masih wagu…
Disini emang hampir gak ada yang peduli soal legalitas barang bajakan. Lha wong razia warnet cuma satu kali formalitas pas pengesahan UU HaKI itu saja. Setelah itu gak pernah lagi. Jadi kami masih nyaman adem ayem saja
[Fritzter]
Nah, itulah dia..
Masih terasa aneh bekerja di lingkungan linux…
Saya juga ngerasa kok Mas…
Tuh, kan seperti yang saya bilang di atas, pasti masih ada daerah yang seperti itu
[Zulfikar]
Ya, tapi idenya keren kan? Yehe…
Saya nggak alergi kok sama MLM…
Cuma kalo denger namanya kok gatel-gatel ya?
[Zulfikar (2)]
Ah, kow seperti nggak tahu cache.itb.ac.id seperti apa…
Btw, udah gw benahin tuh…
[Fritzter]
Yang atas sudah saya benerin tag abbr-nya
[...] setelah ide distribusi dengan Ardianto’s Algorithms, yang tampaknya masih belum cukup efektif kalau hanya mengharapkan seseorang memberikan dua buah CD [...]
Iya-ya… Kok jadi mirip MLM ya…
Khukhukhu… (@@0)
Hidup kudus~!
Ya ampun. Itu buku Matematika Diskrit versi terbaru udah kayak apa ya isinya? Hihi, serem
[...] Ardianto Satriawan; Ide Buat Distribusi Linux, [...]
Kota saya banget
mohon pendapatnya di http://rrhakim.blogspot.com/2009/01/razia-warnet.html
wah,, mungkin masih terasa aneh karena blom biasa aja,, saya kecantol ma UBUNTU,, hahaha,, Windo** serasa lambat dibanding ubuntu,,hahaha
salam kenal, saya dari kudus, pengen punya CD linux….
gak tau harus kemana……..tolooooong…….
YM saya: rohim_black