Tulisan ini adalah bagian keenam dari tujuh tulisan. Lagi-lagi mengenai ide saya terhadap Open Source Software, semoga tidak bosan.
Suatu malam yang gelap dan dingin, hujan deras turun dengan hebatnya. Kilat dan petir menyambar-nyambar, langit berubah menjadi layaknya siang selama beberapa detik, kemudian menjadi gelap kembali. Jarum pendek pada jam sudah menunjuk angka dua, sementara jarum panjang tepat berada di angka 12. Malam yang menyeramkan.
Di malam nan gelap itu, seorang pemuda sedang gigih-gigihnya mencoba menginstal Ubuntu ke komputer jinjingnya. Namun ia tak kunjung berhasil, layar selalu blank setelah logo Ubuntu muncul. Padahal ia sudah membantai datanya demi instalasi Ubuntu. Pemuja google yang menyuruh-nyuruh google juga tak berkutik, karena tak ada Internet di sana. Hape butut milik sang pemuda tak kuat dipakai koneksi internet apa pun.
Bertanya teman pun rasanya tak mungkin. Di tengah badai, hujan deras, dan petir yang menyambar-nyambar rasanya mengunjungi kawan yang sudah berpengalaman menangani Ubuntu pun tak mungkin. Lagipula waktu sudah larut malam, menjelang pagi malah, siapa yang mau bertamu di tengah hujan gelap dan badai, cuma kuntilanak mungkin. Hanya satu yang dia butuhkan, pertolongan!
Sayang tak seorang pun mampu menolongnya di tengah badai. Hanya tinggal berharap muncul layar instalasi, makjejujut dari layar hitam yang sudah tampil di monitornya. Tapi tampaknya seperti menegakkan benang basah, nyaris tak mungkin. Menyerah juga nanggung, sudah hampir pagi sudah kepalang basah, kita tenggelamkan saja.
————–
Tampaknya cerita di atas terlalu berlebihan (lebay banget). Tapi kadang-kadang bantuan itu memang diperlukan, kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Memang yang paling umum adalah tanya teman, atau kalau mau canggih dikit, cari di mesin pencari. Mesin pencari yang sakti itu akan segera menjawab.
Namun apa yang terjadi kalau tak ada akses ke internet maupun ke kawan. Cari di buku-buku yang dipunya, nggak ada.
Nah, untuk situasi seperti ini saya ada ide. Pernah lihat bungkus deterjen nggak? Pernah lihat bungkus sikat gigi atau tidak? Pernah makan snack-snack yang berbungkus menarik? Di bungkusnya selalu ada nomor untuk dihubungi, dan hebatnya bebas pulsa! Tanpa uang sepeser pun! Si nomor yang disebut Suara Konsumen ini melayani semua pertanyaan terkait dengan produk.
Bagaimana kalau kita membuat Call Centre khusus untuk melayani pertanyaan-pertanyaan seputar Open Source? Jadi kalau misalnya ada yang pengen install Ubuntu, tapi yang keluar layar hitam lamaaa sekali, bisa langsung mengangkat gagang telepon, memencet nomor, bicara sebentar, dan dapat solusi. Hebatnya lagi gratis-tis. Keren bukan? Jadi cukup telepon 0-800-Open-Source untuk mendapat layanan.
Namun, solusi seperti ini bukannya tanpa kendala. Selalu ada kendala. Entah kenapa kendala-kendala yang ini bakal sulit dijawab. Kendala yang pertama adalah sumber daya manusia, kendala kedua adalah dana yang dibutuhkan untuk membiayai si call centre, dan kendala ketiga adalah alat-alat yang dibutuhkan. Walaupun saya bilang sulit, tapi karena saya orang baik, saya memikirkan beberapa kemungkinan solusi.
Sumber Daya Manusia
Jelas, yang dimintai tolong harus yang sudah berpengalaman dan expert di bidang Open Source. Tentu saja mereka punya kesibukan masing-masing. Tidak semuanya bersedia melayani 24 jam. Kita buat saja sistem yang bisa mengatur ini, tidak perlu menyuruh sang expert duduk berjam-jam menunggu telepon berdering di kantor call center, akan dibuat sistem yang memforward panggilan ke handphone masing-masing ahli. Jadwal sang ahli akan diminta agar tetap dihubungi. Diusahakan agar ada 3 orang yang siap melayani di satu waktu. Untuk layanan malam hari, digilir siapa yang akan menerima. Orang yang banyak ilmunya biasanya mau berbagi, tenang saja.
Dana
Masalah ini klise, dan entah kenapa selalu dipermasalahkan di Indonesia. Ide saya hanya membuka kotak rekening untuk donasi. Kalau bisa, layanan ini juga digabung dalam delivery gratis Open Source Software yang saya kupas beberapa waktu yang lalu. Sehingga bisa menghasilkan uang dari pemasangan iklan. Kalau bisa juga mempekerjakan orang yang ahli search engine optimization dan bisnis internet, sehingga sang website dan call center bisa memperoleh penghasilan yang cukup besar.
Alat yang digunakan
Pengadaan alat-alat yang dipakai jelas butuh dana yang besar. Mungkin dana yang diperlukan tidak cukup, namun untuk awal-awalnya hanya dibutuhkan satu buah telepon dan alat untuk mengalihkan panggilan kepada si expert. Sayangnya saya tak punya ide lebih lanjut mengenai problem ini. Mungkin hanya menunggu dana terkumpul?
Atau ada yang punya ide?
ini pada kemana ya? koq nggak ada komentar, pada takut sama hujan deras dan petir yang menyambar-nyambar kali ya?
Kapan pengumumannya? Kalau sudah keluar kasih tahu hasilnya!
Koq yang koment cuma satu? Mana yang lainnya?
Saya, juga komen…
Biar ga’ cuma atuw