Sejenak saya berpikir, merenung, di tengah-tengah keramaian manusia-manusia penghuni hutan beton di Jakarta. Ketika kebosanan tengah melanda di tengah-tengah kerja praktek di sebuah perusahaan ternama. Banyak hal yang ingin saya renungi dari awal kuliah hingga kini.
Dimulai dari doktrinasi “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa” yang dilakukan oleh antek-antek KM ITB ketika saya mulai menjejakkan kaki di kampus gajah yang terkenal itu. Useless, lihai sekali menanamkan sikap sombong dan arogan kepada kami mahasiswa-mahasiswa baru. Kebanggaan berlebihan yang membuat kami bahkan tak mengenal tetangga-tetangga kami di Cisitu, yang membuat kami menjaga jarak dengan penjual nasi goreng yang berjasa menyediakan kami makan, yang bahkan berkata punteun kepada warga sekitar pun enggan.
Jika engkau penghuni kampus gajah, kenalkah engkau pada bapak penghuni rumah depan kamar kontrakanmu. Kepada ibu penjual ayam goreng yang mengeluh ketika harga tomat, bawang dan cabe naik dan saya hanya terdiam serta tersenyum kecut mendengarnya. Pernahkah engkau berfikir tentang para pedagang yang terusir oleh peninggian pagar di belakang kampus karena peninggian pagar, pernahkah engkau berfikir tentang bapak-bapak penjaga motor di pagar belakang yang terusir karena portal besi. Pernahkah engkau berfikir bahwa maling-maling laptop di kampus itu ada karena mereka sudah tak kuat lagi mengeluh.
Sikap arogan itu tak penting kawan, lihatlah sekitarmu, sekitar lingkunganmu, sekitar kampusmu, lihat apakah engkau telah memberi manfaat atau hanya beban. Tak perlu jauh berkelana mencari daerah terpencil untuk membantu rakyat, lihatlah warga sekitar. Pernahkah engkau melihat warga pribumi Cisitu ada menuntut ilmu di kampus tercinta? Pernahkah engkau melihat warga Plesiran dan Taman Hewan berkuliah di sini? Dan selalu saja uang menjadi alasan – dan kembali saya tertunduk diam.
Dan berlanjutlah saya pada renungan kedua,sebuah upacara sakral yang tak boleh diganggu gugat yang diselenggarakan oleh organisasi bernama Himpunan Mahasiswa. Di sana mahasiswa yang angkatannya lebih rendah dituntut untuk taat pada aturan dan terkena sanksi bila melanggar. Desain acaranya pun dibuat sedemikian rupa agar terlihat bermanfaat. Tak cukup sampai di situ, tugas pun dibebankan kepada mereka untuk menumbuhkan rasa saling memiliki satu sama lain, waktu pun sangat dihargai.
Tapi, saudara-saudara, tapi, lihatlah sikap mahasiswa yang konon dididik dengan kaderisasi itu, lihatlah waktu ketika mereka datang di kelas. Tidak pernah tidak ada yang terlambat. Rasa saling memiliki pun diterjemahkan dengan memberikan contekan laporan praktikum yang kemudian dikumpulkan dengan tanpa mengubah titik maupun koma. Pernahkah engkau berfikir bahwa 4 orang tidak pernah mungkin membuat hasil laporan yang sama? Tumpukan bukti rasa saling memiliki ini pun masih ada.
Diajari pula bahwa kita tidak boleh melakukan kecurangan, kenyataannya berapa banyak kawan kita yang melakukannya? Bahkan kawan saya yang kerja praktek di tempat yang sama dengan saya, mengaku pernah dimintai tolong untuk mengerjakan tugas besar kuliah Algoritma dan Struktur Data dari scratch hingga jadi beserta laporannya. Bukti otentiknya pun masih tersimpan rapi di inbox e-mailnya. Memalukan! SHAME! Buat saya lebih baik tidak lulus daripada berbuat seperti itu.
Pernahkah engkau hanya menuliskan nama di lembar jawab ujianmu? Saya pernah! Tetapi tidak untuk kawan-kawan saya yang dengan baik berdiskusi dan membuka buku ketika aturan sudah tertulis melarangnya. Nilai pun keluar 0 untuk saya dengan sukses dan selamat untuk yang lain. I’ve been treaten fair enough. Tentu saja aturan manusia boleh dilanggar, karena manusia bukan Tuhan.
Kenyataan memang membuat saya tersenyum, kecut. Ya-ya-ya, beginilah sikap “Putra-putri terbaik bangsa” itu. Saya pun hanya diam dan tersenyum. Terima kasih Jakarta yang keras, yang membuatku merenung.
Wah wah wah wah wah.. Panas nih….
Entar nasipnya kayak “Perilaku Anti Koding” di blog gw loh. AHAHAHA